Passport, Traveling dan Menulis

Saya pernah membaca tulisan “Passport” karya Rhenald Kasali. Di tulisan itu RK menyarankan, agar anak muda Indonesia memiliki passport dan berkelana ke mancanegara. Hingga hari ini saya masih suka traveling, walaupun sifatnya memberi semangat kepada anak-anak muda, terutama keempat anak saya.

Saya sudah memiliki passport pada 1987, ketika teman-teman se-SMA dan se-kuliah menganggap pergi ke luar negeri itu mewah dan harus anak menteri dan diplomat, bekerja di kedutaan, atau lewat jalur beasiswa mahasiswa. Saya baru berhasil keluar dari tempurung bernama Indonesia ke Kuching lewat Entikong, Malaysia. Saat di Kuching, saya semakin yakin, bahwa negeri Indonesia diurus oleh orang-orang tidak waras waktu itu. Kemudian ke Jepang. Semakin yakin, bahwa Indonesia tercinta tertinggal segala-galanya. Padahal Jepang pernah dibom atom oleh Amerika.
Salah besar jika orang hanya memikirkan perut saja. Borderless sekarang. Di Rumah Dunia, semua orang saya dorong agar traveling ke mana saja mampunya. Untung Boyke Pribadi dan Muhammad Arif Kirdiat ikut urunan mensubsidi para Relawan Rumah Dunia, sehingga pekerjaan saya jadi lebih mudah. Andai semua orang mampu mau mensubsidi orang lain yang miskin untuk traveling, pasti anak muda di kampung akan tergerak membangun, karena isi otaknya sudah ditambah. Kalau saya tidak begitu mengharuskan selalu traveling keluar negeri, tapi pergilah dari rumah lalu tuliskan. Cobalah yang dekat-dekat saja dulu, di kampung kita.
Gong Tias (1)Lihat, Ade Jaya Suryani dan  Juned ; mereka 2 relawan Rumah Dunia dari kampung Cigeulis, Banten Selatan. Lalu Rahmat Heldy Hs dan Abdul Salam dari Waringin Kurung. Mereka kakak beradik, yang dengan ilmunya sudah berani memiliki passport.
Ketika menulis ini, saya terkenang Taiwan dan anak saya Gabriel Firmansyah yang sekolah di Abu Dhabi sejak 2012  dan Ade Jaya sejak Februari 2016 menempuh S3 di Leiden, Belanda. Saya juga tak bisa melupakan ketika pada 12-19 Oktober saya ke Jerman dan 28-30 Oktober 2015 dengan #GongTraveling ke Singapore membawa 20 santri Nurul Ilmy Darunnajah 14 Padarincang, Serang. Setiap saya traveling bersama #GongTraveling , dari trip ini bisa membawa 1 relawan Rumah Dunia untuk 20 orang. Sekarang relawan Rumah Dunia sedang demam bikin passport. Itu sesuatu yang menggembirakan.
Istri dan keempat anak saya, semua memiliki passport. Setelah beberapa kota di Indonesia dikunjungi, minimal Singapore, Malaysia, dan Thailand sudah pula mereka jelajahi. Istri saya malah sudah traveling di 7 negara Asia dan menulis buku “The Traveler’s Wife”. Putri pertama kami – Bella – sejak Februari 2016 studi di China.
Apakah saya orang kaya? Bukan. Tapi saya tidak jadi jatuh miskin karena senang bepergian.
Jadi, masih tidak mau memiliki passport dan menolak ke luar negeri? Anda sudah dibodohi oleh para politikus, agar jadi katak dalam tempurung. Untuk jadi nasionalis itu bukan sekadar diam mendekam membangun kampung, tapi bikin passport dan pergi dari rumah. Susuri nusantara dan jelajahi bumi. Maka nasionalisme akan tumbuh menggelora di dada Anda. Dan jangan kaget, jika kemudian Anda akan mengumpat : Damn! Karena kita tertinggal sangat jauuuuuuuuh sekalle…..
Jadi jangan heran kalau banyak para TKI yang setelah pulang ke Indonesia, selalu ingin pergi lagi ke luar negeri dengan segala resiko. Ketika saya tanya kenapa? Jawab mereka, karena di desa mereka tidak tahu harus melakukan apa kecuali mendapat hinaan sebagai pembantu. “Kalau di luar megeri,walau dihina majikan, kita dapat uang jutaan…”
Dan semua itu karena “passport”… (*)

AGENDA GONG TRAVELING 2018
(Jalan-jalan sambil nulis buku bersama Gol A Gong)

#JalurSutra
Jelajah Singapore, Malacca, Kuala Lumpur: 19 – 23 Januari 2018. Pendaftaran ditutup 23 November 2017. Biaya Rp 5 juta. Minimal 10 orang. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

#MaThaTravelling
Xplore Malaysia (Kualalumpur) – Thailand (Hat Yai – Bangkok): 22 – 26 Februari 2018. Pendaftaran ditutup Desember 2017. Sudah tertarik 18 orang (confirm, tanggal belum dipastikan). Biaya Rp. 6 jt. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007

#XploreWat
Jelajah Bangkok (Arum Wat) Dan Sie Rap (Angkor Wat ) Dan Phnom Penh (Polpot Genosida) . Minimal 10 orang. Siap berangkat 16 Maret – 20 Maret 2018. Biaya Rp. 6 juta. Pendaftaran ditutup 10 Desember 2017. Sudah 2 orang mendaftar. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

#Xploresingapore
Anda yang menentukan waktunya. Kita menjadi warga Singapore Selama tiga hari dua malam. Biaya Rp. 3 juta. Ada paket hemat Rp 2,4 juta, minimal 3 bulan sebelumnya mendaftarkan diri. Tanpa bagasi dan tanpa asuransi. Waktunya Anda yang menentukan sendiri. Minimal 15 orang.

#XploreHongkong
Jelajah Hongkong. Kita akan membuka wawasan tentang kota film kung fu itu. Legenda Bruce Lee . Minimal 10 orang. Siap berangkat 12 – 16 April 2018. Biaya Rp. 10 juta. Pendaftaran ditutup 12 Februari 2018. Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

Ayo, menabung dari sekarang. Mari kita perluas cakrawala berpikir kita. Jika Anda dan komunitas tertarik mengatur agenda sendiri, silahkan ke Narahubung Tias Tatanka di 081906311007.

*) Biaya hanya untuk tiket pesawat dari Jakarta ke negara tujuan PP, penginapan, workshop travel writing dan penerbitan buku ber-ISBN. Untuk makan dan transportasi lokal ditanggung sendiri.

Tetap semangat
Gol A Gong

***

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *