Kisah di Perbatasan Thailand – Kamboja

Aku menyukai perbatasan. Beragam cerita akan aku dapatkan. Seperti di Tawao, perbatasan Nunukan, Indonesia dengan Tawao, Sabah, Malaysia. Atau di Entikong, Pontianak dan Kuching, Serawak. Padang Besar, Malaysia dan Hat Yai, Thailand. India – Nepal juga menarik. Banglasdeh – Calcutta sangat atraktif.  Apalagi di perbatasan India – Pakistan yang sarat konflik. Dan masih banyak lagi kisah di perbatasan yang pernah aku alami. Paling hangat adalah ketika November 2017 lalu, aku melintasi Thailand ke Kamboja, tepatnya Aranyaprathet, Thailand dan Poipet, Kamboja.  Informasi yang sering kita baca, banyak copet di perbatasan itu.

Tepatnya 4 November 2017, aku naik kereta pagi dari Hua Lampong, Bangkok ke Aranyaprathet, kota kecil di perbatasan Thailand-Kamboja. Ongkosnya murah, 50 Baht, setara dengan IDR 25 ribu. Keretanya buatan INKA Indonesia, mirip kereta ekonomi jurusan Jakarta – Yogya. Saat beli tiket, antri tertib. Di atas kereta dalam perjalanan 6 jam, polisi kereta api rajin mengontrol setiap gerbong. Jika kerta berhenti di stasiun, pedagang asongan diperkenankan masuk gerbong kereta, asalkan tertib. Para penumpang sangat membutuhkan pedagang asongan untuk mengisi perut yang belum sarapan dan rasa haus.

Setibanya di perbatasan, setelah pasporku dicap petugas imigrasi Thailand, mulai banyak yang menawarkan jasa angkutan kepada siapa saja yang masuk Kamboja. Mirip saat kita turun dari bus, kemudian para tukang ojek menyerbu. Mereka tahu, bahwa para turis datang ke Kamboja, pasti akan singgah di Siem Reap, kota kecil yang sedang bersolek, karena ada Angkor Wat di sana. Apalagi setelah Angkor Wat dijadikan lokasi syuting film “Lara Croft : Tomb Raider”, yang diperankan Angelina Jolie.

Aku tahu persis, orang-orang Kamboja yang menawarkan jasa transportasi tuk-tuk dan taksi tidak akan konyol melakukan kejahatan. Beri saja mereka senyum. Ajak mereka berbincang. Saat mereka menawarkannya kepadaku, aku tanyakan harganya berapa. Aku menjawab sambil, “Ya, aku akan pikirkan. Sementara ini, aku minum kopi dulu.” Dan aku meminta jin untuk memotret mereka.

Jadi, tidak usah curiga atau menjaga jarak dengan mereka. Santai saja. Tersenyum dan ajak mereka berbincang-bincang. Biasanya mereka akan mengabaikan kita. Tentu waspada perlu, tapi tidak perlu berlebihan.

Nah, kisahku setelah minum kopi, aku naik tuk tuk ke terminal bus. Aku katakan kepada supir tuk tuk, aku mau ke Siem Reap. Beberapa supir van dan taksi yang menawarkan jasa dengan ongkos US$ 15, aku tolak. Aku memberi tahu, bahwa aku memilih naik bus, karena ingin tahu terminal bus dan danaku tdeak cukup.

Supir tuk tuk membawaku ke agen bus perjalanan. Aku memintanya untuk mengantarkanku ke terminal bus.

“Ongkosnya sama, kok,” kata pemilik agen bus.

“Aku ingin tahu terminal bus di Kamboja. Aku ingin memotret terminal bus.”

“Kau tidak percaya kepadaku? Oke!” nadanya marah.

“Sorry, aku tidak bermaksud begitu. Aku harus memotret terminal bus. Aku ini wartawan. Jadi, aku butuh foto-foto bus dan suasana di terminal,” aku meminta pengertian.

Akhirnya pemilik agen bus perjalanan mengangguk dan menyuruh supir tuk tuk membawaku ke terminal bus Poipet. Dari sana, aku bisa mendapatkan taksi dengan harga US$ 20 dan tentu kisah perjalanan yang lain. (Gong/foto: Aranyaprathet check point)

Satu gagasan untuk “Kisah di Perbatasan Thailand – Kamboja”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.