Cerita di Perbatasan Singapore-Malaysia

Gong Traveling trip Jalur Sutra 19-23 Januari 2018 diikuti sebanyak enam peserta, tiga relawan Rumah Dunia Rudi Rustiadi, Daru Pamungkas, Djoe Taufik dan tiga peserta umum Vita Mardhianti, Tesar Alamsyah Rahdian, dan Bu Isma Farida. Meeting Point’ di Bandara Internasional Soekarno Hatta Jakarta menjadi awal dari perjalanan menuju beragam destinasi wisata dua negara lima kota ini.

Singapura selalu memberi nuansa berbeda setiap kali mengunjunginya. Dengan mode transportasi serta kemajuan teknologinya, Negeri Singa tak pernah sepi dari turis mancanegara. Kami menghabiskan hari pertama dengan mengunjungi Universal Studio, Merlion Park, Garden Bay the Bey, dan Bugis Junction. Menjelang malam, kami menuju Woodland atau perbatasan Malaysia-Singapura dengan hanya merogoh kocek 4 dolar Singapura untuk tarip bus.

Melewati proses imigrasi yang penuh tantangan lantaran harus mengantre di antara ribuan orang, menjadikan perjalanan sebagai suatu cara melatih kesabaran. Hingga proses imigrasi terlewati, letih pun menjadi suatu kenangan tersendiri.

Malam itu kami sampai terminal Larkin, Johor Bahru. Memesan tiket bus untuk besok menuju Malaka. Setelah itu kami menginap di Gazrins Budget Hotel dengan biaya sewa 40, 50 sampai 120 Ringgit permalam. Letak hotel ini tak jauh dari terminal Larkin Johor Bahru tepatnya di jalan Daratan Larkin Johor Bahru Larkin 3.

Di hari ke-dua, kami mengawali pagi dengan upload foto selama perjalanan satu hari kemarin di depan hotel. Tentunya memanfaatkan WiFi yang ada. Ini cara hemat buat kamu yang doyan eksis tapi tak ingin membeli kuota. He he.

Di saat yang lain sibuk dengan gadget-nya, aku harus gigit jari karena semua fotoku ada di kamera digital Taufik dan kamera Rudi. Aku tak bisa foto dengan handphone-ku karena kameranya jelek. Tapi aku tak kehabisan akal untuk mengisi kekosongan, aku pergi ke jalan raya dan mencatat nama jalan sambil merasakan sensasi pagi di Malaysia.

Di sini hampir mirip dengan jalan-jalan di Jakarta. Meski waktu itu subuh, tapi aroma debu, terik matahari, dan keriuhan kendaraan kental terasa.

Pukul 06.00 waktu Malaysia kami menuju terminal bus.  Tak kusangka, suara salawat yang berkumandang menghiasi pagi itu berasal dari atas gedung terminal bus. Di sana menjadi tempat kami salat subuh, namanya Masjid An-Nur. Aku, Mas Gong, Taufik, dan Vita salat subuh. Sedangkan Rudi, Tesar, dan Bu Isma menjaga tas.

Setelahnya kami sarapan di rumah makan masakan kampung. Di sana banyak menu makanan enak seperti martabak telor, kupat sayur, nasi goreng, pataya, dan beragam minuman segar seperti jus dan teh tarik. Aku meminum teh tarik dan makan nasi goreng plus ayam goreng merah.

Selesai sarapan, kami lekas menuju bus menuju Malacca. Dengan tarif 21 Ringgit perorang, kami melesat dengan bus bernomor JKL 9393. Semua penumpang datang tepat waktu seperti tertera di tiket pukul 07.30.

Setelah satu hari kemarin menguras tenaga dengan jalan kaki dan berdiri di bus, kini menikmati kenyamanan dengan tidur di bus. Kursinya juga memang didesain untuk perjalanan jauh. Kami tertidur pulas. (Daru Borsalino)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan.