Mong Kok, Pusat Belanja di Hong Kong

Setelah selesai memberi pelatihan menulis kepada para Buruh Migran Indonesia di Hong Kong Visual Art, Minggu 11 Februari 2018, saya dan Mas Gol A Gong mampir  ke  #LadiesMarket  di  #MongKok,  bersama Jenny Ervina, buruh migran Indonesia asalah Petir, Serang. Jenny sudah menulis 3 novel. Di Mong Kok ini, karena orientasinya bukan belanja, jadi cuma cari suvenir kecil buat yang di rumah. Ini kode supaya nggak minta oleh-oleh. Hahaha. Soalnya tanpa bagasi biar melenggang santai, kebayang kan kalau harus antre bagasi yang butuh waktu lebih lama.

Sebelum pulang ke hostel, puas-puasin dulu di Mong Kok menonton pertunjukan musik para generasi old. Kakek-kakek yang menyanyikan lagu lawas dari jenis country sampai balada. Dari yang berbahasa Inggris sampai Mandarin. Beberapa kakek dan nenek menari mengikuti irama lagu. So sweet pisan. Mengingatkan kami suatu saat pun akan menua.

“Wih, perjalanannya enak-enak aja, nggak pernah nggak enak, ya?”

Oh, pernah. Malamnya saya agak ngambek.

Ceritanya saya minta ke i-Square, sebuah mall yang jaraknya cuma selirikan mata dari trotoar hostel. Hubby mengiyakan. Tapi ketika waktu yang dijanjikan tiba, ia malas mengantar, tapi mengizinkan saya pergi sendiri. Saya mulai ngambek, nggak mau bicara dengannya beberapa saat.

Kami berdiri berjarak. Saya sibuk menahan air mata, malulah sama semut-semut yang berbaris di dinding. Tapi ada saatnya saya keras kepala. Padahal sebenarnya mengerti juga sih, kenapa hubby enggan ke sana.

“Cuma sebuah mall. Sama kayak mall lain. Lagian ngapain, nggak ada yang dibeli juga,” alasan hubby. Saya mau bilang, kalau gitu beli suasananya. Tapi lidah saya kelu, lebih menang keras kepalanya.

Setelah beberapa saat, hubby mengajak jalan. Lalu kami melangkah ke i-Square dalam diam. Keliling dalam mall, lantai demi lantai. Mungkin agak menyakitkan buatnya, belum bisa membelikan barang mewah. Kayaknya gitu sih kalau lihat sorot matanya. Hahaha.

Tapi bininya yang keras kepala itu semangat aja muterin lantai mall, naik eskalator, muter lagi, naik lagi, sampai nemu toko pernak-pernik. Dan dengan sabar hubby menemani, sampai dia bosan dan memilih menunggu di luar toko.

Saya masih terus saja lihat barang, nanya pramuniaganya ini-itu dengan sopan. Mengincar barang tapi sadar diri ketika harga nggak masuk di kantong. Ada satu set besi pencetak huruf dan angka untuk bahan kulit. Harganya ratusan dolar Hong Kong. Nggak sakit hati juga kalau nggak beli. Tapi jadi tahu macam-macam barang yang aneh. #menghiburdiri

Keluar toko, hubby bertanya lewat pandangan mata. Senyumnya merekah melihat bininya sudh ceria lagi, padahal nggak beli apa-apa. Habis itu kami malah blusukan sampai lantai atas, menyasarkan diri ke bioskop. Sempat berencana nonton, tapi malas karena petunjuk pembelian tiket dalam bahada Mandarin. Filmnya sih ada subtitle Bahasa Inggris, tapi ribet duluan di pembelian tiket. Jadilah kami pulang ke hostel.

Begitulah. Ada suka pasti ada duka. Tinggal bagaimana menghadapi dan menyelesaikan. Biasanya sih, kalau saya keras kepala, pasti ada sesuatu makna di baliknya.  (Tias Tatanka)

#XPLOREHONGKONG BERSAMA TIAS TATANKA

Ayo, para Emak Backpacker, kita #XploreHongkong bersama Tias Tatanka. Catat, nih, 23 – 24 – 25 Juni 2018. Anggap saja ini kado lebaran dari suami.   Ayo, segera daftar ke 081906311007.

It's only fair to share...Share on FacebookShare on Google+Tweet about this on TwitterShare on LinkedIn

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *